Antara kau

Aku titipkan rinduku kepada angin yang berhembus  Yang berlahan menyelusuri malam yang syahdu  Dan kuberharap kau merasakan rinduku Tiada cara yang lebih indah dalam menyampaikan salam  selain kau titipkan rindumu kepada rabbmu.  Maka akan tersampaikan itu.  Mari kita saling memantaskan diri,  berbenah pribadi, saling menjaga dan mendoakan.  Karena Doa adalah telaga rindu Bagi yang mengharapkan pertemuan.  Hatimu akan terpeluk aman dan aku pun akan dapat merasakan nya.  Sebagaimana yang engkau rasakan saat ini. Rindu yang tiada berujung temu ini... Semoga memberikan hadiah tebusan terindah untuk kehidupan kita Dan dengan kekuatan doa segala nya akan mungkin menyatu.  Sejujurnya banyak yang ingin ku Katakan, ada yang ingin ku sampaikan, namun tak mampu untuk ku utarakan.   Aku tahu mungkin saat ini kita sama" sedang menahan perih. Dan sadarkah dikau bahwa aku tidak pernah hilang. Sesungguhnya a...

ziarah tengah malam

Gus Dur dikenal sebagai kiai yang rutin berziarah. Suatu ketika, seorang temannya bernama Greg Barton, profesor di Universitas Monash, Australia, menengok Gus Dur di rumah sakit dengan membawa serta anaknya bernama Hana yang saat itu berusia 14 tahun.

Tanpa diduga, putri penulis buku biografi Gus Dur itu bertanya kepada Gus Dur tentang hantu. “Gus Dur apakah hantu itu ada?” tanya Hana.

“Kalau hantu dan makhluk-makhluk gaib, sebenarnya saya kurang tahu. Tapi saya punya cerita sedikit yang merupakan sebagian jawaban,” ujar Gus Dur.

Saat di Jombang, tepatnya di Pondok Pesantren Tebuireng, Gus Dur bercerita memiliki kebiasaan pergi ziarah dan berdoa di kuburan. Suatu ketika, di makam Tebuireng Gus Dur berziarah sekitar pukul 01.00. Namun, saat berziarah ia tertidur.

Setelah dua jam pulas, Gus Dur terbangun karena ada suara orang yang datang hendak berziarah. Kemudian Ketua Umum PBNU 1984-2000 itu berdiri menengok orang tersebut. Tak pelak, orang yang datang tersebut kaget dan berteriak sembari melarikan diri.

“Saya tidak tahu apakah hantu itu ada atau tidak, tapi kalau bertanya kepada orang itu (orang yang berlari tersebut), pasti menjawab ada,” kata Gus Dur sembari tertawa.

Komentar