Antara kau

Aku titipkan rinduku kepada angin yang berhembus  Yang berlahan menyelusuri malam yang syahdu  Dan kuberharap kau merasakan rinduku Tiada cara yang lebih indah dalam menyampaikan salam  selain kau titipkan rindumu kepada rabbmu.  Maka akan tersampaikan itu.  Mari kita saling memantaskan diri,  berbenah pribadi, saling menjaga dan mendoakan.  Karena Doa adalah telaga rindu Bagi yang mengharapkan pertemuan.  Hatimu akan terpeluk aman dan aku pun akan dapat merasakan nya.  Sebagaimana yang engkau rasakan saat ini. Rindu yang tiada berujung temu ini... Semoga memberikan hadiah tebusan terindah untuk kehidupan kita Dan dengan kekuatan doa segala nya akan mungkin menyatu.  Sejujurnya banyak yang ingin ku Katakan, ada yang ingin ku sampaikan, namun tak mampu untuk ku utarakan.   Aku tahu mungkin saat ini kita sama" sedang menahan perih. Dan sadarkah dikau bahwa aku tidak pernah hilang. Sesungguhnya a...

Agama mana yang paling jauh dengan Tuhannya???

Agama mana yang paling jauh dengan Tuhannya

Suatu ketika Gus Dur bercerita agama apa yang paling dekat dengan Tuhan. Tokoh agama Islam, Kristen, dan Budha pun saling lempar pendapat.

“Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap kita beribadah ketika memanggil Tuhan kita mengucapkan ‘Om’. "Nah kalian tahu sendiri kan seberapa dekat antara paman dengan keponakannya?” kata seorang Biksu Buddha.

Seorang pendeta dari agama Kristen langsung membantah. “Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan,” ujar pendeta.

“Lah kok bisa?” sahut biksu penasaran

Agama Anda kalau memanggil Tuhan hanya "om", kalau di agama saya memanggil Tuhan itu "Bapa". Nah kalian tahu sendiri kan lebih dekat mana anak sama bapaknya daripada keponakan dengan pamannya,” kata pendeta berargumen.

Gus Dur yang menjadi perwakilan dari Islam tertawa mendengar debat antara biksu dan pendeta. “Loh kenapa Anda kok tertawa terus, Gus?” tanya pendeta penasaran kepada Gus Dur.

“Apa Anda merasa agama Anda lebih dekat dengan Tuhan?” sahut biksu menimpali.

Gus Dur yang masih tertawa lalu pelan-pelan mereda. “Ndak kok! Saya ndak bilang gitu. Boro-boro dekat justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan," kata Gus Dur yang masih tertawa mendengar debat biksu dan pendeta.

“Lah kok bisa?” tanya pendeta dan biksu bersamaan.

“Lah gimana tidak, lah wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai toa alias pengeras suara. Lima kali sehari lagi," jawab Gus Dur tertawa.

Gus Dur

Komentar